
Karanganyar (Humas) – Menciptakan lingkungan pesantren yang aman dan bebas dari perundungan (bullying) menjadi komitmen nyata Pondok Pesantren Salafiyyah (PPS) Darul Mubtadi-Ien, Kebakkramat, Karanganyar. Melalui inovasi program Sahabat Ramah Santri (SRS) yang dibentuk sejak April 2026, pesantren ini melibatkan santri pilihan untuk ikut menjaga kedamaian asrama.
Program ini melibatkan sejumlah santri yang dipilih sebagai perwakilan untuk membantu mengawasi kedisiplinan sekaligus menjadi pihak yang dapat mendeteksi lebih awal berbagai permasalahan yang terjadi di lingkungan pondok. Salah satu fokus utama SRS adalah menemukan indikasi perundungan dan segera melaporkannya kepada guru atau pengurus pesantren.
Pengasuh PPS Darul Mubtadi–Ien, Kyai Asy’ari Rofi’i, menjelaskan bahwa pengasuhan di pesantren berlangsung selama 24 jam sehingga diperlukan keterlibatan santri dalam menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama.

“Pengasuhan di pondok pesantren itu 24 jam, sehingga kami menilai perlu melibatkan para siswa dalam hal pengawasan kedisiplinan,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan SRS diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi antara santri dan pengurus, termasuk dalam mengidentifikasi potensi perundungan yang terkadang sulit terdeteksi secara langsung oleh para pembina.
Kyai Asy’ari menegaskan bahwa setiap persoalan yang melibatkan santri perlu ditangani dengan pendekatan yang tepat dan tidak disamaratakan.
“Jika ada santri melakukan pelanggaran, kita ajak ngobrol, kita gali alasan dia seperti itu apa. Dari situ kita jadi tahu inti permasalahan dan tindakan yang tepat agar santri tidak mengulangi,” jelasnya.
Melalui program SRS, PPS Darul Mubtadi–Ien berharap tumbuh budaya saling peduli dan saling menjaga antarsantri sehingga lingkungan pesantren tetap aman, nyaman, dan mendukung perkembangan karakter positif seluruh santri. (Umi/Ida )
