KARANGANYAR – Perayaan Hari Raya Saraswati di Puri Saraswati, kawasan Candi Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Sabtu (31/10/2026), tidak hanya menjadi momentum untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga memberikan penguatan nilai-nilai spiritual dan pembentukan karakter umat Hindu dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui persembahyangan bersama sebagai wujud penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Dewi Saraswati, umat Hindu diajak untuk memaknai ilmu pengetahuan secara lebih mendalam. Ilmu tidak hanya dipahami sebagai bekal untuk meningkatkan kecerdasan intelektual, tetapi juga sebagai landasan membangun kebijaksanaan, kesabaran, keikhlasan, dan keluhuran budi pekerti.
Dalam pesan Dharma yang disampaikan pada perayaan tersebut, Lilik Dwi Fajar Riyanto, selaku Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Karanganyar, menekankan bahwa nilai utama Hari Raya Saraswati harus dapat diwujudkan melalui perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, perayaan Saraswati menjadi kesempatan bagi umat untuk melakukan introspeksi diri, sekaligus mengevaluasi sejauh mana ilmu pengetahuan yang dimiliki telah membentuk sikap dan karakter yang lebih baik.
“Banyak orang mampu mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, tetapi ada dua ilmu yang sangat sulit dipraktikkan dalam kehidupan, yaitu ilmu ikhlas dan ilmu sabar. Keduanya mudah diucapkan, tetapi membutuhkan kedewasaan jiwa untuk benar-benar dilaksanakan,” ungkap Lilik dalam pesan Dharma yang disampaikannya.
Ia menjelaskan, pemahaman terhadap ilmu ikhlas dapat membantu seseorang menjalankan kewajiban dan berbuat baik tanpa selalu mengharapkan imbalan maupun pengakuan. Sementara ilmu sabar menjadi bekal penting untuk mengendalikan emosi, menerima kenyataan dengan lapang dada, serta tetap teguh menjalankan Dharma ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Implementasi kedua nilai tersebut diharapkan mampu menciptakan pribadi yang lebih tenang, bijaksana, dan mampu membangun hubungan sosial yang harmonis. Hal ini sekaligus mencerminkan ajaran Hindu tentang Tri Kaya Parisudha, yaitu penyucian pikiran (manacika), perkataan (wacika), dan perbuatan (kayika).
“Orang yang benar-benar berilmu bukan hanya mereka yang pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi mereka yang mampu mempraktikkan kebaikan itu. Mampu bersabar ketika diuji, ikhlas ketika berbuat, dan tetap rendah hati ketika memiliki kelebihan,” pesannya.
Lebih lanjut, Lilik menyampaikan bahwa ilmu pengetahuan juga memiliki peran penting dalam membangun keharmonisan kehidupan. Nilai-nilai yang diperoleh melalui pembelajaran agama hendaknya mampu diterapkan untuk mempererat hubungan dalam keluarga, meningkatkan kepedulian sosial, serta menumbuhkan tanggung jawab dalam menjaga lingkungan.

Pesan tersebut sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana yang mengajarkan tiga prinsip keharmonisan, yakni hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan antarsesama manusia (Pawongan), dan hubungan manusia dengan lingkungan alam (Palemahan).
Dengan mengimplementasikan nilai-nilai tersebut, perayaan Hari Raya Saraswati diharapkan memberikan manfaat nyata bagi kehidupan umat, mulai dari tumbuhnya sikap saling menghormati, terpeliharanya kerukunan, kemampuan mengendalikan amarah, hingga meningkatnya kepedulian dan ketulusan dalam membantu sesama.
Persembahyangan di Puri Saraswati, kawasan Candi Cetho, juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi keagamaan umat Hindu sekaligus memperkuat kehidupan spiritual masyarakat di lereng Gunung Lawu. Kegiatan ini menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan umat serta mewariskan nilai-nilai Dharma kepada generasi penerus.
Melalui momentum Hari Raya Saraswati, umat Hindu diharapkan semakin menyadari bahwa ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan keluhuran budi pekerti. Dengan demikian, ilmu tidak hanya menjadikan seseorang semakin pintar, tetapi juga semakin bijaksana, sabar, ikhlas, rendah hati, serta mampu memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya.

